Sunday, May 11, 2014

Lecture Note: Induktif

Cara berpikir Induktif adalah berpikir mendapatkan kesimpulan dari serangkaian kejadian yang sudah ada. Kadang saya suka kebalik-balik antara induktif dan deduktif. Jadi supaya ingat induktif itu berpikir secara "in" (dari khusus ke general), dan deduktif berpikir secara "de" (dari general ke khusus). Haha.

Tulisan Lecture Note kali ini dibuat oleh Pak Lala Septem Riza. Tulisan ini sebenarnya adalah tulisan sebelum lecture note mengenai cara berpikir induktif. Berikut tulisan yang beliau buat di grup jurusan saya:

[LECTURE NOTE] Bagi yang sudah membaca LECTURE NOTE beberapa hari yang lalu, mungkin masih ingat tentang pertanyaan saya: "apakah anda seorang scientist atau engineer ?". Bagi yang belum bisa menjawab, ndak papa, karena sekarang kita akan bahas salah satu karakter dari scientists. Salah satu karakteristik dari scientists adalah mereka sangat getol ("keen on") pada metode inductivism (induktif). Apa itu induktif/generalisasi ? Arti gampangannya adalah generalisasi. Misalkan gini, anda dapat mangga dari pohon tetangga. Anda kupas dan makan, dan ternyata rasanya manis. Trus, tetangga yang kasih mangga itu bilang: "Buah mangga dari pohon ini memang selalu manis rasanya". Itulah generalisasi, karena anda dan tetangga tidak makan semua mangga di pohon itu, bukan ? Dan sepertinya tidak perlu, karena kalau anda lakukan, itu namanya panen dan perut anda bisa kembung karena mangga . Anda bisa menyimpulkan sesuatu secara generalisasi dengan hanya mengambil sample sebagian dari mangga itu. Contoh lain, bagi yang belum pernah lihat dan pergi ke Australia, pasti punya kesimpulan bahwa "angsa selalu berwarna putih". Karena setiap kali kita ketemu angsa, selalu berwarna putih. Padahal sebenarnya ada angsa berwarna hitam di Australia.
Ada langkah2x dan syarat2x dalam melakukan induktif, agar diperoleh kesimpulan yang kuat. Pada dasarnya ada 2 langkah, yaitu:
1. Lihat/observasi SATU data/fakta. Misalkan, angsanya pak Ali berwarna putih. Cuman ada 1 angsa yg kita lihat, yaitu miliknya pak Ali saja. Sehingga kita punya hipotesa, misal: "angsa selalu berwarna putih".
2. Kemudian, lakukan GENERALISASI. Syarat melakukan generalisasi adalah:
a. pengambilan sample untuk observasi harus banyak. Misal, kita kumpulkan banyak angsa yg lain.
b. sample harus mencerminkan berbagai kondisi. Misal, kita ambil angsa dari indonesia, Belanda, Australia, dll.
c. tidak boleh satupun dari observasi tersebut memiliki kesimpulan yang berbeda. Dan ternyata hipotesa kita salah yg menyatakan bahwa "angsa selalu berwarna putih", karena setelah observasi tyt angsa Australia berwarna hitam!.
Itulah proses dari induksi yang harus kita ikuti agar diperoleh kesimpulan dgn tingkat ke-valid-an yg kuat. Saya katakan kuat, karena kita sesungguhnya TIDAK dapat mengimpulkan KEBENARAN ABSOLUT dgn metode Induktif ini, yang ada hanya kuat, lemah, dan tak valid. Contoh yg menunjukkan kita tak bisa menyimpulkan secara absolut adalah hari ini ada matahari, kemarin juga ada, 100 th yg lalu juga ada, bisakah kita simpulkan secara absolut kalau besok masih ada matahari ??, tentu tidak bukan , "but we strongly believe that tomorrow we can still see the sun". Hopefully... xixixi.
Banyak contoh dari proses induksi di bidang science, misalkan teorema (e.g., teorema no free lunch, pada LECTURE NOTE yang lalu), hukum (e.g., hukum Newton), model, dll. Dan hampir setiap saat di kehidupan, kita berkubang dengan induktif/generalisasi. Misal, kita baca berita banyak anggota partai A yang korupsi, trus kita katakan: "Partai A adalah partai korup". Kita juga sering bilang "Eeh si A orangnya bager pisan euy", padahal kita tak amati tiap detiknya. "Dosen itu tuh selalu marah di kelas", "Wah pagi-pagi kok udah mendung, pasti bentar lagi mau hujan", dan lain sebagainya . Yang terpenting disini adalah jika kita melakukan generalisasi maka kita perlu sadar bahwa pernyataan/kesimpulan kita bukanlah kebenaran yang absolut.
Apakah Induktif adalah metode terbaik di science ? ternyata metode ini ada kelemahannya, salah satunya adalah data yang kita punya, harus bisa kita observasi/lihat/rasakan/hitung. Bagaimana dengan surga ? tak ada satupun orang di dunia ini yang pernah lihat surga, apakah trus kita katakan surga tidak ada ?? tentu tidak . Maka dari itu, kita butuh metode yang lain, semisal Deduktif, Paradigm, dan tentu saja kita perlu menambah iman . Adakah yang tahu apa kelemahan lain dari metode Induktif ini ?
Semoga artikel ini bisa sedikit memberi "rasa scientists" di diri kita dalam kehidupan sehari-hari.

No comments:

Post a Comment

Comment is caring :)