Monday, June 18, 2018

Apa ya, kenapa ya begini ya

Saat internet masih sangat naif dan sederhana, semuanya terasa sangat mungkin dan menyenangkan. Apapun yang ditemukan dan dibagikan terasa sangat orisinil. Penemuan-penemuan kecil yang didapatkan dari internet adalah harta karun. Sekedar tutorial membuat teks yang bergerak hingga cara membuat sebuah game komplit, dari minggu ke minggu, internet sangatlah istimewa.

Hai, ini adalah postingan petuah dari Igrir. Setelah sekian lama saya tidak menulis (Oh wow! Terakhir menulis tahun lalu!), saya kembali menganu-anu blog ini.

Currently I'm writing this in my hometown, Sampit. Saya sedang menikmati masa-masa berliburan lebaran. Bermodalkan sebuah laptop dan internet dari modem router xl, bisa ngeblog asik.

Kenapa saya menulis? Karena saya sudah lama tidak menulis. Oh wow. Mmm, namun hal yang membuat saya terpelatuk adalah "kenangan".

Beberapa hari yang lalu saya diajak oleh teman saya untuk mengunjungi guru SMA saya. Setelah menikmati sepiring nasi kuning, kami mulai berbincang mengenai hal random. Salah satu topiknya mengenai "Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan". Beruntung saya bersama teman-teman pernah membuat sebuah video catatan akhir sekolah sederhana dan telah diupload di YouTube.


Sisihkan bagian-bagian kekonyolan, dan lompati di menit ke 16:30 sampai menit 20:-an

Kembali ke rumah guru SMA yang saya sambangi bersama teman saya.

"Ini yang merekam pak Tomy ni," kata Doddy menjelaskan siapa yang merekam momen saat kami sedang berbaris di lapangan. Sekilas info, pak Tomy adalah guru muatan lokal kami.

"Iya, kalau zaman kalian tu generasi percobaan dari pemerintah," sambut Bu Nina. "Kalau yang sekarang, mau nilai ujiannya berapa juga, tetap lulus."
"Ya am bu, kasihan yang kada lulus, ada tanda bintangnya di ijazah, dapat lulus bersayarat," balas Doddy.

Eh... hang on. Kenapa info penting ini lepas dari memori saya ya?

Kenapa ya?

Kenapa saya nggak ingat ketegangan ujian yang merupakan syarat kelulusan? Saya kok kayaknya nggak sadar, atau nggak mengerti, bahwa 3 tahun masa sekolah hanya ditentukan selama 4 hari ujian. Kok kayaknya saya nggak peduli ya masa-masa itu?

I mean... LOOK AT THIS FUCKER, SANS AMAT LOE MZ
it was fucking me
"Rasanya mau senang juga kasihan sama teman yang nggak lulus," imbuh Doddy ", masih ingat si Adit ke rumah buat belajar ngulang ujian."

Fuck. Kok momen begitu penting dan bersejarah gini aing permanent delete ya. Ada kerusakan otak apa gimana sih ini. Agak-agak ingat dikit sih setelah pembagian informasi kelulusan saya ke mushola, terus... nggak tahu. Fast forward ahead rasanya udah ke jualan DVD catatan akhir sekolah ini. Atau itu sebelumnya ya? Tahu ah.

Gak tahu ada hubungannya apa kagak, selama 6 bulan ke belakang ini saya merasa banyak hal-hal yang tidak ingin saya ingat. Rasanya sangat mudah untuk melupakan sesuatu. Ada asyiknya sih. Saya sempat merasa gejala-gejala stress dan menyentuh titik nadir. Pikiran-pikiran berkelana ke dalam hutan, menabrakan diri ke mobil, menyobek urat nadi, mengutuk diri sendiri. Penyebabnya mungkin dari beberapa hal, tapi I coped the problem with forgetting.

Mending saya ingat gak ya. Ah, gak usah ah~~ Lalala.

Nikmat dan anugerah yang diberikan kepada manusia kan kemampuan untuk melupakan. Kalau selalu ingat, nanti ingat bernafas terus jadi capek deh nafasnya.

HAHAHA. MAAFKAN.

jangan berkedip.

HAHAHAHA

okey okey

jangan menelan ludah.

AHAHAHA

Tapi mungkin juga karena saya terlalu naif dan terima-terima aja. Sepertinya semua sangat mudah dan diberikan jalannya. Tanpa pikir panjang mencoba sesuatu dan menjalaninya dengan khidmat.

Bego sih, tapi tetap memilih dengan intuisi.

Eh, topiknya apa tadi? Ah, iya memory

Memory 

Biasanya ukurannya 2GB - 8GB, makin gede, makin banyak aplikasi yang dibuka bersamaan. Kalau di hape, makin gede katanya makin lancar main game. Kalau di manusia, katanya memorynya sekitar 2.5 petabyte, sekitar 1 juta gigabyte. Kalau dikonversi seharga $0.01 per gigabyte harga memory otak manusia kalau disewa (via backblaze https://www.backblaze.com/blog/hard-drive-cost-per-gigabyte/) sekitar $25000.

Masih banyak ruang yang tersisa ya sebenernya. Kalau bisa disewakan disewain sih. Kayak film Johnny Mnemonic, daripada nggak kepake coba.

But the thing is, it's so precious and (currently) it still ours to have, gak bisa ditransfer secara langsung, nggak bisa dianu-anu, sistem operasinya kompleks. Mau copas, delete, duplikat, transfer, unik tiap pribadi dan aksesnya aneh.

sekarang mandi ah

Tuesday, December 5, 2017

Forced Vacation December 2017

Satu perk dari kantor (remote) yang baru diinisiasi sama pak bos adalah "Forced Vacation", alias "Dipaksa Liburan". Peraturannya adalah diberi uang jajan dan dipaksa sehari untuk liburan, atau beli makanan, atau lainnya. Awalnya saya nggak tahu mau ngapain, soalnya kalau liburan ya dipakai untuk leyeh-leyeh di rumah. Akhirnya memutuskan untuk pergi ke Museum Geologi Bandung, dan sambil jalan-jalan sekitaran Bandung. Here we goes.

Saya memutuskan untuk jalan-jalan dengan angkot. Kenapa? Karena ini "jalan-jalan" dude, it's supposed to be jalan. Heheh. Selain itu karena males juga sih harus parkir-parkir kalau mau wandering around.

Let's Go!


Pagi-pagi saya awali dengan ngasih makan emeng dulu

meong-meong yang suka datang ke rumah

Selanjutnya naik angkot menuju gerlong. Dari Lembang ke Gerlong biayanya masih Rp 5.000
mamang angkot

Sesampainya di terminal gerlong saya melipir dulu ke Alfamart buat sarapan buat dimakan sambil naik angkot Ledeng-Caheum ke museum. Eh! Gak sengaja ketemu Teh Botol tawar. Dari dulu nyari-nyari. Rasanya memang tawar, yang "kerasa" aromanya. Entah kenapa rasanya klop banget dimakan bareng onigiri. Kayaknya cocok buat pendamping makanan lain, karena nggak ada rasa manis yang nutupin. Pokoke ini pasangan yang recommended deh.

jodoh yang cocok

Sambil sarapan, selama perjalanan naik angkot saya nontonin orang-orang (salah satu kegiatan yang asik kalau naik angkot)....
ngeliatin orang di jalan
...dan baca buku! Senangnya ada Play Books, jadi bisa baca buku di mana aja. Yang saya lagi baca Blood, Sweat, and Pixels. Isinya tentang perjalanan game developer, baik individu maupun studio, yang berjuang dengan "darah dan keringat" untuk menyelesaikan produknya. Setelah beberapa tahun di tepian industri game, lumayan paham sih, huehue. You should read it, really.

Saya sendiri belum selesai bacanya nggak nyempatin diri sih. Angkot memang tempat paling enak buat baca buku.
https://play.google.com/store/books/details/Jason_Schreier_Blood_Sweat_and_Pixels?id=-bK-DQAAQBAJ&hl=en

The Adventure of Yaya

Karena nggak ada yang nemenin (Senin kenalan pada kerja sih), ya udah saya bawa Yaya. Jadi selama jalan-jalan saya pakai Yaya sebagai modelnya. More or less Yaya is persona of me, heheh.

Setengah jam dari Lembang, setengah jam dari Ledeng, akhirnya sampai di Museum Geologi Bandung. Sesampainya di sana gerbang depannya tutup, padahal pintu gedung museumnya sudah buka. Ternyata kalau sepagi ini (jam 08:30) yang dibuka gerbang di samping.

Saya beli tiket, kayaknya Yaya masuknya gratis

Kalau umum tiket masuknya Rp 3.000 dong, ya ampun, murah.

Ini perjalanan saya pertama kali Museum Geologi Bandung. Eh, atau pernah ya? (Bisa jadi mungkin waktu masih kecil banget diajak orang tua, tapi kayaknya nggak deh..)

Museum ini menampung koleksi bebatuan, hasil bumi, dan fosil yang digali. Lumayan asyik juga, menyadarkan bahwa manusia dan segala kehidupan yang pernah ada membentuk bumi itu sendiri. Batu yang bentuknya aneh-aneh itu bisa jadi bagian dari makhluk hidup yang terkubur tjuy!

Yaya bertemu tulang mas T-Rex
Jasa Arie Frederick Lasut yang mengumpulkan dokumen geologi Indonesia sehingga museum ini ada

Di sana juga ada alat buat simulasi gempa, sayangnya sedang perbaikan, jadi nggak bisa goyang-goyang deh.

Sekitar 45 menit keliling-keliling tiba-tiba di luar jadi rame, ternyata ada rombongan anak-anak SMP yang lagi foto-foto di depan. Wheee.
Wheeee
Habis itu saya keluar untuk nyari oleh-oleh. Toko oleh-oleh ada di sebelah kiri gedung. Desain tokonya ini, logonya juga kece.
Sambil liat-liat... Ehhh, kebetulan nemu jaket! Awalnya rencana beli jaket di BIP, ngelihat di sini ada jaket kayaknya menarik, bisa jadi oleh-oleh juga, dan jaketnya keren bingiiit. Modelnya kayak jaket musim dingin, kainnya tebel,warnanya hitam, kantongnya ada banyak. Jadinya kepincut deh.
Ini jaketnya

Gasibu

Setelah puas keliling-keliling (dan hedon beli jaket) saya jalan-jalan ke checklist berikutnya, perpustakaan gasibu!
Gedung sate, jadi pengen makan sate

Gasibu letaknya di depan Gedung Sate. Bentuknya kini sudah direnovasi jadi kece. Kalau dulu mungkin agak kumuh, sekarang ada trek larinya, tamannya, dan perpustakaannya.
dindingnya lagi dicat ulang. Mmmm... wangi pelitur
Herannya jam 11 gini masih ada aja yang jogging dong. Panas-panas.
Yaya ikut jogging juga. Panaas

Kalau masuk dari arah gedung sate, sekitar 100 meter ke depan, masih dalam area gasibu, terdapat perpustakaan Gasibu. Saya penasaran aja sih apaan isinya.
Tulisan di gedung perpustakaannya

Koleksi bukunya, hm....

Ada batu penanda peresmian perpustakaannya. Kenapa nggak ditaruh di luar ya?

Tasnya ditaruh di sini

Jam layanan perpustakaan
Di dalamnya ada meja-meja komputer. Kayaknya lumayan enak kalau mau kerja remote di sini. Sayangnya colokannya sudah dicolok sama komputer yang sudah ada, jadi kalau bawa laptop... kayaknya harus duduk di tempat lain.

Makan siang

Sudah siang, saatnya jajan-jajan! Dari Gasibu saya jalan kaki ke Pasar Cisangkuy. Mm... bukan "pasar" beneran sih, tapi lebih ke foodcourt. Saya duduk di belakang. Awalnya minta menu, ternyata disuruh duduk dulu aja nanti ada waiter yang nyamperin. Nunggu lagi... ternyata nggak dateng-dateng. Saya nanya ke salah satu petugasnya katanya coba duduk di depan, ternyata iya... kayaknya karena di belakang sepi jadinya nggak ada waiter yang nunggu.

Di belakang sini asik, open space, tapi smoking area
Karena tadi ke gedung sate, jadinya makan sate
Di Mushola

BIP, BEC, dan Gramedia

Dari sini terus pengen ke Gramedia. Awalnya pengen nyoba pakai sepeda Boseh, tapi di dock yang ada di dekat Museum Geologi nggak ada booth pendaftarannya. Hm... Terus kepikiran mau pakai Gojek, tapi... nggak tahu, saya malah milih jalan kaki, haha. Di peta katanya sekitar setengah jam, tapi nggak begitu terasa.

 

 Alhamdulillahnya di Bandung dipasang banyak kursi, jadi di tengah perjalanan bisa leyeh-leyeh dulu.
Jalanan di depan macet loh. Alhamdulillah jalan kaki.
Alhamdulillah juga harinya cerah

Sesampainya di BIP .. saya nggak tahu ngapain. Jadinya jalan-jalan nggak jelas. Pokoknya... ada Meikarta sih, wkwk. Saya lewat alhamdulillah nggak ditawarin apa-apa sih. Tampangnya kurang elit kali ya. Ada gunanya juga.
Bawa aku pergi dari sini
Jalan-jalan ke sini bikin sakit mata. Lampu mall entah rasanya bikin pegel, haha. Jadi selanjutnya ke Gramedia, nyari buku buat ponakan.

Dari BIP ke Gramedia harus lewat jembatan penyeberangan soalnya jalan di tengahnya dipagari. Nyempetin foto Yaya di sini. Sempet ada orang lewat, haha. Quite a nice photo though.


Btw pas di Gramedia ada kotak buat sumbangan buku, bentuknya keren mirip ATM.


Setelah itu... nggak tahu mau ke mana. Awalnya mau ke BEC buat beli casing dan anti gores hape, tapi kayaknya agak masuk angin, jadinya mau istirahat dulu bentar deh di Ngopi Doeloe. Agak hedon ya hari ini, tapi ya... kan ini vacation! Hahahaha.


Sekitar 1 jam duduk di sini sambil baca buku, saya akhirnya memutuskan untuk pulang aja. Eit, kebetulan pas mau nyeberang jalan sudah waktunya Ashar, jadinya sholat dulu di mesjid dekat Balai Kota.
Panoramanya menarik
Setelah itu pulang deh

Pulang

Saya pulang naik angkot Caheum-Ledeng. Pas angkotnya lagi lewat jalan Cihampelas, saya ngelihat ada docking rental sepeda Boseh, dan ada booth untuk pendaftarannya! Dan ada yang ngejaganya!! Kyaaa. Yah.... tapi lagi di angkot, jadi kagok, kapan-kapan aja deh daftarnya.

Yaya bobok di angkot
Saya akhirnya sampai di UPI dan berpindah angkot ke jalur Lembang. Seperti biasa... angkotnya ngetem, padahal udah mules-mules, hahaha. Untunglah sampai selamat di rumah, dan langsung "meditasi".

That's All!

Akhir vacation saya habiskan dengan nonton YouTube, hoho. Asik juga jalan-jalan, tapi kurang asik sih karena nggak bareng-bareng. Bareng sih.. bareng Yaya, tapi Yayanya diam aja selama perjalanan.

Nanti liburannya ke mana lagi ya?