Buy Me A Coffee!

GoPay

Monday, March 18, 2013

"Sebelum Tidur"

Ada tugas dari teknik multimedia untu membuat storyboard. And here's my idea.

Nama
"Sebelum Tidur"

Garis besar
Sekarang sudah jam 9, dan Riki harus tidur. Sebelum tidur Riki harus mempersiapkan segalanya. Yuk bantu Riki untuk bersiap sebelum tidur.

Cerita

  1. Dimulai di sebuah layar, Riki bercerita sekarang sudah jam 9, dan sudah saatnya tidur. Riki harus bersiap-siap. Pertama-tama yang harus dilakukannya adalah berganti piyama. Dimana ya piyama Riki? Klik lemari
  2. Lemari terbuka dan ada piyama Riki. Di klik piyama nya, dan swoosh, Riki sekarang berubah pakai Piyama. Nah sekarang Riki harus menyikat gigi. Klik pintu toilet yang ada di belakang Riki. Tap tap tap, Riki pun masuk ke dalam toilet.
  3. Di dalam toilet Riki harus menyikat gigi. Gimana caranya? Pertama klik pasta gigi, Riki sekarang memegang pasta gigi
  4. Klik sikat gigi, sekarang riki menyikat sikat gigi
  5. Kemudian animasi berjalan, Riki menyikat giginya, srok srok srok~ Ah~ segar... Sekarang Riki harus mencuci muka. Klik keran, dan Riki sekarang mencuci mukanya.
  6. Nah sekarang Riki siap untuk tidur, pergi keluar dengan mengklik pintu di belakang Riki
  7. Di luar, sekarang Riki bisa tidur, klik tempat tidurnya, tap tap tap, dan swooosh, Riki sekarang di tempat tidur.
  8. Nah, sekarang saatnya tidur, uups, jangan lupa untuk mematikan lampu. Klik lampu di sebelah kamar Riki.
  9. Sebelum tidur baca doa dulu, bismikaallahumma ahya wabismia ammut.. selamat tidur teman-teman!
Selesai deh :D

Friday, March 8, 2013

Pixelmator

Keren
Murah

/Users/theusers/Library/Preferences/com.pixelmatorteam....

Loh kok? Kenapa? Nggak kenapa-kenapa...

Bye!

Saturday, March 2, 2013

Gath GDB Februari: Post Mortem

Tanggal 28 Februari yang lalu teman-teman Game Developer Bandung (GDB) kembali mengadakan mini gathering. Acaranya di Cafe S28 Bandung dan dimulai dari jam 19:00.

Tema yang diusung adalah Post Mortem dan Business Model dari game. Post Mortem disini bukan setelah kematian dan pelaksanaan otopsi ya. Post Mortem adalah analisis terhadap proyek yang telah dilaksanakan, sukses atau nggak. Nah, ini menarik. Bagaimana cara game developer lain memulai gamenya, menjualnya, dan mempublikasikannya. Gathering ini jadi pelajaran yang berharga!

Seru nggak?

Oke, saya ngaku kalau saya telat. Saya makan dulu dekat kampus baru berangkat ke jalan Sulanjana dengan sepeda motor teteh saya. Kok nggak makan di S28? Err... just because (melirik mesem-mesem).

Saya kurang tahu awalnya dari mana tapi setahu saya begitu datang sudah dimulai oleh kawan-kawan dari Agate yang ngebahas game mereka, Up In Flames.

Kerjasama dengan Chillingo

Yang menarik adalah game Up In Flames bisa bekerjasama dengan Chillingo sebagai publisher. Sekedar menyegarkan, Chillingo adalah publisher yang pernah melentingkan Angry Birds. Penasaran gameplay dari Up In Flames? Video trailernya bisa disimak di link Youtube ini.

Ternyata saya sudah berada di sesi tanya jawab yang kesekian. Dan presentasi Up In Flames pun selesai.

Setelah penjelasan dari Agate tentang game mereka yang bekerjasama dengan publisher, sekarang adalah presentasi dari sebuah studio yang bekerjasama dengan sponsor.

Karakter Dari Permen

kiri mas Gery (Nightspade), kanan mas Zaky (Tinker Game, yang jadi host). Maaf kalau ada penulisan nama ya
Prok prok prok.. Diiringi tepuk tangan dan presenter kedua hadir, yaitu mas Gery. Beliau dari Nightspade dan memberikan presentasi tentang Give a Dam.

Give a Dam adalah game yang bekerjasama dengan Chupa Chups. Tahu donk Chupa Chups? Produsen permen lolipop warna-warni dengan aneka rasa dan hadir dengan beragam rasa? Kok jadi pengen permen gini ya? Ah sudahlah.

Mas Gery bercerita bagaimana mereka bisa bekerjasama dengan Chupa Chups. Saat dulu Nightspade mengikuti semacam pameran, Chupa Chups mendatangi mereka dan mengatakan Nightspade bisa jadi mitra yang tepat untuk membuat game mereka. Gamenya sendiri sebenarnya mirip dengan game Nightspade sebelumnya, yaitu Stack the Stuff. Yang membedakan adalah karakter-karakternya.

Hi-Fidelity dan Low-Fidelity

Kerjasama pun akhirnya ditetapkan. Saat memberikan perkembangan ke Chupa Chups Mas Gery mengatakan yang mereka berikan adalah sketsa kasar. Sketsa beneran! Mas Gery bilang mirip bikin Namé kalau di komik manga, kurang jelas juga Namé seperti apa tapi katanya coretan-coretan sekedar bulat-bulat kotak.

Dalam membuat prototype game Mas Gery mengatakan ada dua jenis, Hi-Fidelity dan Low-Fidelity. Low-Fidelity adalah bentuk dari game yang cuma sekedar gambar kotak atau bulat dan dinyatakan itu adalah sebuah karakter, pokoknya gamenya bisa dimainkan, sedangkan Hi-Fidelity sudah membentuk karakternya seperti apa dengan asset yang sudah lumayan (tinggal dipercantik).

Karakter Sponsor Begitu Dijaga

Berbeda dengan game-game pada umumnya, karakter dari sebuah sponsor harus memiliki citra yang baik. Bisa dikatakan sebagai jaga image dan harus sesuai dengan sponsornya.. Sebagai contoh kalau kita mau membuat game tentang kesehatan jantung juga nggak pas kan kalau sponsornya rokok?

Mas Gery mengatakan dari Chupa Chups sendiri sudah membuat peraturan-peraturan mengenai karakter yang digunakan. Entah itu dari warnanya, ekspresi yang dikeluarkan, dan sebagainya.

Di versi pertama dari Give a Dam mas Gery mengatakan di bagian komik ada gambar Pedo Bear nya, karena bertentangan sekali dengan karakter Chupa Chups pada versi berikutnya gambar Pedo Bear ini langsung dihilangkan. Wuah segitunya ya?
Somehow Mas Gery ini mirip kakak tingkat saya...

Game Developer Indie? Jangan Launching di Dekat Liburan

Ada hal yang menarik nih. Mas Gery mengatakan jangan launching game mendekati tanggal-tanggal liburan misalnya natal atau tahun baru. Loh, bukannya malah bagus ya karena orang-orang pada mau main game? Nah itu masalahnya, begitu juga dengan perusahaan lain yang lebih besar. Jikalau publish yang terjadi adalah berada di bawah bayang-bayang perusahan-perusahaan tersebut.

Testing Market di Negara Yang Tidak Berbahasa Inggris

Dan game mereka pun diluncurkan. Saat meluncurkan game ada yang disebut sebagai market testing. Mas Gery mengatakan pilih dulu negara yang ingin dijadikan percobaan penjualan. Jadi setelah negara yang dipilih membeli dan memberikan feedback kita masih sempat untuk membenahi game kita dan dijual di negara lain.

Pertanyaannya, negara mana yang bisa dipilih untuk jadi market test? Mas Gery bilang ada negara-negara yang sebaiknya dihindari dulu saat dipublish, yaitu US, Inggris, Jerman, Itali, Prancis, dan Australia. Untuk mencari market test sebisa mungkin cari yang budayanya mirip dengan negara yang mau jadi target utama tapi tidak berbahasa Inggris. Misalnya Belanda, di wilayah Eropa tapi tidak berbahasa Inggris.

Sebentar, kenapa nggak yang berbahasa Inggris? Karena jika ada review negara tersebut tidak menuliskannya dalam bahasa Inggris, yang akhirnya orang lain tidak begitu mengerti.

Wah.. good point..

Dan Beri Penghargaan

Satu poin lagi dari Mas Gery. Buat penghargaan bagi orang-orang yang telah memberikan feedback entah itu kritik, saran, maupun laporan bug kepada game yang sudah kita buat. Contoh sederhana adalah membuat wallpaper bagi orang tersebut.


Sesi Mas Gery pun selesai, berlanjut ke sesi berikutnya. Setelah game dengan publisher, game dengan sponsor, dan sekarang adalah game yang? Yaak.. game yang publish sendiri. 

Dekatin Ibu-Ibu...

Di bagian ini penjelasan post-mortem dari Hompimplay Studio.

art mereka yang keren-keren ini cuma makan waktu 1 bulan lo!


Diceritakan game ini sempat telat setahun lo, yang maunya rilis di 2011 maka dirilisnya tahun 2012. Alasannya karena pemilihan lagu di game ini.

Untuk publikasi, Hompimplay menggunakan Appbackr dan mendapatkan sokongan data sekitar $2000. Dana tersebut digunakan sepenuhnya untuk publikasi. Dan publikasi yang dilaksanakan oleh Hompimplay keren banget! Mereka menyuguhkan strategi Pre-launch, Launch, dan Post-launch. Saya nggak kepikiran ada strategi semacam itu.

Satu hal juga yang menarik. Karena game ini ditujukan kepada ibu-ibu yang memiliki anak-anak, jadi sasaran publikasi dari Hompimplay juga kepada blog tentang ibu-ibu. Mereka juga memberikan bentuk promosi berupa resep masakan! Wahaha!

... dan.. Acara Bebas!

Dan saya pulang. Eh! Kok pulang? Sudah malam soalnya. Jam menunjukkan pukul setengah 10, dan saya sangat cinta dengan kasur saya.

Bulan Depan


Bulan depan akan diadakan gath GDB lagi, dan katanya Mas Zaki gath akan bekerjasama dengan Nokia. Cihuy! Ditunggu deh tanggal mainnya!

Wednesday, February 20, 2013

Perjanjian Dari Pencipta Ke Pengguna dengan Creative Commons

Jam 1 siang, sesi ketiga dari rangkaian acara seminar nasional #Dinamik8 pun dimulai. Kali ini yang menjadi bintang tamu adalah pak Ivan Lanin. Beliau adalah wakil direktur proyek Creative Commons Indonesia. Pada kesempatan kali ini beliau memberikan pembahasan dengan tajuk "Bersinergi dengan Karya TI Berlisensi".

Bahasa Indonesia yang Baik Dan Benar


Loh, kok TI? bukan IT? Pak Ivan menegaskan penggunaan TI karena merupakan bahasa Indonesia yang benar, yakni singkatan dari Teknologi Informasi. Wah, pak Ivan pemerhati bahasa Indonesia yang baik dan benar lo. Jelas saja, karena beliau merupakan salah satu kontributor dari Wikipedia Indonesia. Bahkan kang Arvi yang merupakan moderator beberapa kali diralat kata-katanya seperti Talkshow dalam bahasa Indonesianya adalah gelar wicara, dan MC adalah pembawa acara. Membelalakkan mata ya?
Saya jadi berkontemplasi apakah bahasa saya sudah benar. Namun pak Ivan berkata jangan khawatir, kosakata bahasa Indonesia kita itu sebenarnya banyak, namun tidak biasa untuk dipakai.

Pak Ivan yang ada di kiri dan menghadap ke arah kamera.

Lisensi Creative Commons

Ups, kok malah membahas tentang Bahasa Indonesianya ya? Mari kita lanjutkan tentang Creative Commons.

Pak Ivan mengatakan lisensi adalah perjanjian atau ketentuan antara pencipta dan pengguna. Pengguna berhak atas apa saja dari karya yang telah diciptakan. Beliau kemudian menerangkan Creative Commons Indonesia bukanlah lembaga hukum namun lembaga mengadaptasi Creative Commons Indonesia dan mempublikasikannya di Indonesia. Cita-cita luhur dari Creative Commons Indonesia adalah menyadarkan akan lisensi kepada masyarakat.

Lisensi Creative Commons secara singkat memberikan informasi yang jelas mengenai izin dari pencipta karya untuk membolehkannya berbagi. Bagaimana dengan karya yang tidak memiliki lisensi ini? Karya lain seperti teks, gambar, data, musik, video yang tidak ada lisensinya apa tidak boleh diambil? Pak Ivan menyatakan boleh saja, namun harus meminta izin secara langsung. Sebagai contoh beliau pernah meminta izin terhadap sebuah karya nasional dan meminta izin ke Perpustakaan Nasional Indonesia, dan itu baru dijawab 2 bulan kemudian. Repot ya?

Nah, agar bisa diberikan pernyataan tentang karya bisa dibagi secara mudah maka ada creative commons. Creative Commons Indonesia sendiri baru berdiri secara resmi tahun 2012 yang lalu, namun sebenarnya perencanaan dan pembangunannya sejak tahun 2008. Info lengkapnya bisa dilihat di http://creativecommons.or.id/ atau follow twitternya di cc_id

Ada satu poin yang perlu diingat. Creative Commons tidak mencakup ke software lo, karena ranah software itu berada di hak paten.

Analogi Pohon Gratis

Pak Ivan memberikan analogi yang bagus saat gelar wicara. "Orang-orang mencuri mangga dikarenakan mangga tidak gratis dan dia tidak memiliki pohon mangga di rumahnya bukan? Kalau misalnya pohon mangga digratiskan apa masih ada yang mau mencuri?" Sontak dari peserta berkoor "Tidak." Adalagi analogi dari Pak Ivan Analogi dari Pak Ivan "Kalau di rumah makan ada Jus Alpukat, bayar, dan Teh Tawar yang gratis, cenderung memilih Teh Tawar bukan? Padahal jelas berbeda." Analogi-analogi tersebut menjelaskan dengan semakin banyaknya karya yang mudah didapatkan dan dibagi maka orang akan cenderung menggunakannya sebagai pilihan alternatif.

Yuk Sadar!

Acara pun berakhir. Yah... saya nggak diberi kesempatan bertanya, padahal ngebet loh untuk bertanya. Bapak Ivan juga sudah pulang, ingin berfoto sejenak sebenarnya, hihi. Oh ya sudahlah, dengan kedatangan Pak Ivan ke kampus dari hasil request saya ke panitia Seminar Nasional juga sudah puas kok.

Oh ya, Pak Ivan mengatakan sadar akan lisensi itu mungkin tidak seketika, namun memerlukan proses. Beliau pun demikian. Namun kini beliau sudah sadar akan lisensi. Misalnya ketika ingin mengunduh dokumen-dokumen yang tidak bebas diberikan karena tidak berlisensi Creative Commons beliau kini berpikir dua kali, begitu pula dengan membeli DVD bajakan, beliau merasakan sesuatu yang salah dan pikir-pikir terlebih dahulu.

Yuk ah semuanya sadar lisensi, biar karya kita semua bisa dihargai!

p.s: follow pak Ivan Lanin di twitternya @ivanlanin ya! Beliau katanya aktif kalau lagi nggak di luar kota.

"Kita Sedang Menyiapkan Paspor lo,"

Bu Pepita sedang memberikan ucapan menjelang peresmian.




Dalam rangkaian acara Seminar Nasional dari #Dinamik8 berikutnya adalah giliran Bu Pepita Gunawan dari Google. Beliau memberikan informasi tentang Google Apps yang bekerjasama dengan dunia pendidikan.

Kesan pertama begitu menyegarkan, bu Pepita gaul banget! Beliau menggunakan kaos non-formal berwarna merah. Dengan gaya santai, bu Pepita memberikan ice breaking dengan bertanya hal-hal terkait Google Apps dan perkuliahan.

Dari sesi kali ini saya disadarkan kalau perkuliahan itu sangat mempengaruhi masa depan lo! Bu Pepita menjelaskan kalau kedepannya saat bekerja itu dimulai dari perkuliahan. Yup, jalan pemikiran, cara memilih, dan berinteraksi itu dipengaruhi cara menjalani dunia kampus sekarang.

Berlanjut ke dunia kerja, yang membedakan orang yang satu dengan lainnya (yang kuliah) salah satunya kegiatan yang dilakukan diluar dari perkuliahan. "Saya senang outdoor dan dunia teater, apa yang membuat saya dipanggil oleh interview salah satunya karena hal ini." Benar bukan? Karena soft-skill didapat dari diluar pelajaran.

Dan menit-menit berikutnya bertebaran dengan hadiah-hadiah dari yang menjawab pertanyaan-pertanyaan. Ihiks, saya tidak begitu pede untuk menjawab. *menyesal.. menyesal... huhuhu mudah-mudahan Bu Pepita baca dan diberi baju Google, hahaha!*

Tapi dapat stiker Google Mail loo

Kemudian dilanjutkan dengan peresmian Google Apss for Education dengan pemukulan gong.

dan peresmiaan...

P.s: Padahal sebelum diresmikan saya dan teman-teman sudah mengerjakan proposal bisnis dengan Google Docs lo. (Jadi ingat belum selesai proposalnya. Kyaaaaa *panik*)