Buy Me A Coffee!

GoPay

Monday, May 19, 2014

Perjalanan Cesatu Ke Sawarna



Sawarna adalah sebuah lokasi di provinsi Banten. Sawarna terkenal dengan wilayah pantainya yang menghadap samudera Hindia. Kebetulan hari Jum'at dan Sabtu lalu saya bersama rekan-rekan kelas kampus saya menyambangi pantai ini sejenak.

Biaya

Perkiraan awal untuk perjalanan ini adalah sebagai berikut:
Rp 2.000.000 untuk transportasi
Rp 1.000.000 untuk penginapan
Jumlah peserta yang ikut adalah 20 orang, maka ditetapkan biaya untuk pergi adalah Rp 150.000 setiap orangnya. Namun ternyata biaya tersebut dirasa kurang karena belum ditambah biaya konsumsi dan lainnya, maka uang iuran masing-masing pelancong adalah Rp 200.000.

Transportasi

Kami berangkat menggunakan dua mobil, yakni mini bus pariwisata dan mobil Suzuki Ertiga. Pada awalnya kami berencana untuk berangkat hanya menggunakan satu mobil karena pesertanya hanya 17, namun ternyata peserta bertambah. Beruntung beberapa dari kami memiliki mobil. Maka peserta dibagi menjadi dua grup, 6 orang naik mobil ertiga, 14 orang lainnya naik mobil mini bus.

Untuk biaya bensin mobil tambahan dicanangkan dana sebesar Rp 600.000, namun pada akhirnya terpakai hanya Rp 220.000.

mini bus yang kami pakai

Saya duduk di sebelah Erwin (yang lagi 'peace')

Ini Firmansyah, bersama mobil Ertiganya


Perjalanan

Perjalanan ke Sawarna menempuh waktu kurang lebih 7 jam. Karena kami hanya akan tinggal selama 2 hari 1 malam di Sawarna maka akan lebih baik jika sampai lebih pagi. Karena itu kami berangkat hari Jum'at (16 Mei 2014) dari jam 1:22 pagi.

Mungkin karena bukan musim liburan dan bukan akhir minggu, perjalanan ke Sawarna terasa cukup lancar. Hm.. saya sebenarnya tidak begitu yakin, karena saya tidur sepanjang perjalanan, haha. Namun saya rasa cukup lancar.

Setelah sholat Subuh di sebuah mesjid (saya lupa di mana, kami berhenti sejenak di sebuah mesjid yang kami temui), kami berhenti sejenak di Palabuhan Ratu sekitar jam 8 pagi. Untuk masuk ke kawasan ini kami harus membayar biaya retribusi. Biaya ini disesuaikan dengan ukuran kendaraan.  Dikarenakan kami menggunakan mini bus maka kami harus membayar sebesar Rp 30.000. Untuk mobil satunya lagi, Suzuki Ertiga, saya kurang tahu berapa.

Di sana kami sarapan. 7 orang dari kami makan bubur ayam seharga Rp 7.000, 13 orang lainnya, ditambah seorang supir, makan nasi goreng seharga Rp 10.000.
suasana Palabuhan Ratu
Setelah kenyang dan berfoto sejenak, kami membayar parkir (Rp 5.000) dan melanjutkan perjalanan.

Penginapan

Kami sampai di Sawarna sekitar jam 9. Setibanya di sana kami segera mencari tempat penginapan. Ya! Kami baru mencari tempat penginapan! Beruntung ada sebuah penginapan yang lumayan luas dan kosong disana.

Penginapan yang kami singgahi bernama "Andrew Batara Home Stay." Letaknya bertepatan di sebelah sungai dekat jembatan gantung menuju pantai.

AC di ruang tengah. Di dalam satu kamar besar juga ada AC, bahkan ada kipas anginnya.

ada nomor telepon, pin bb, e-mail, dan facebooknya juga. Siapa tahu mau kontak penginapan ini

Jembatan menuju arah pantai

Bagian belakang penginapan

Penginapan ini memiliki 2 kamar mandi (1 di dalam, 1 di luar), 3 kamar, 2 AC, dan 1 televisi. Tamu yang hadir juga diberikan fasilitas sebuah dispenser lengkap dengan galon air yang sudah terisi. Di bagian belakang juga terdapat keran untuk mencuci badan terlebih dahulu yang mungkin bisa digunakan jika anda berkotor-kotor ria di pantai. Biaya penginapan ini adalah Rp 750.000 per hari nya. Murah bukan?

Oh ya, bagi kamu yang memerlukan keperluan sehari-hari juga jangan khawatir. Di dekat penginapan ini terdapat Alfamart dan Indomaret lo!

Karena saat itu adalah hari Jum'at, maka saya dan teman-teman laki-laki lainnya bersiap-siap untuk sholat Jum'at di mesjid yang letaknya tidak jauh dari penginapan.

Gua

Setelah sholat Jum'at, saya makan di sebuah warteg di dekat penginapan (Saya makan dengan nasi ditambah sayur labu dan telur dadar, harganya Rp 9.000). Setelah kenyang kami memulai rekreasi dengan mengunjungi gua Lalay.

Lalay berarti kelelawar. Gua ini letaknya sekitar 300 meter dari penginapan kami. Hmm... sebenarnya itu jarak menuju gang arah gua lalay. Mobil kami hanya bisa parkir di sana. Untuk menuju gua nya itu sendiri kami harus berjalan lagi sekitar 300 meter.

Suasana perjalanan menuju gua Lalay menyenangkan karena hamparan sawah membentang sejauh mata memandang. Suasana kampung sangat terasa. Bebek dan ayam berkeliaran mengiringi perjalanan kami.

Kami kemudian tiba di sebuah pos gua Lalay. Di sana kami harus mendaftar dan membayar uang retribusi sebesar Rp 5.000 per orang. Jumlah kami ada 20 orang, namun kami dapat potongan harga menjadi 17 orang. Setelah membayar, kami diberikan tawaran apakah ingin menggunakan helm, lampu kepala, dan senter. Uhuk, ternyata masing-masing perlengkapan tadi dibiayai lagi Rp 5.000 per benda nya. Tapi kami putuskan untuk menggunakan cahaya flash light handphone saja sebagai senter. Setelah negosiasi selesai, kami diminta untuk melepas sendal dan memulai perjalanan. Kami dibimbing oleh seorang pemandu dan mulai memasuki gua.

Itu adalah pertama kalinya saya masuk ke gua alami. Gua terakhir yang saya sambangi sebelumnya adalah gua bunker, yakni gua Belanda. Yang satu ini beda. Karena gua alam maka medannya terjal, berbatu, licin, dan basah. Dimana-mana tanah liat teronggok dan membentuk pulau-pulau kecil. Air menggenang dan mengalir mulai dari setinggi mata kaki hingga sepaha orang dewasa. Satu hal yang saya rasa luar biasa adalah kegelapan pekat jika tidak ada cahaya senter. Saya menjadi paham kenapa orang bisa tersesat di dalam gua karena kegelapan seperti saat itu bisa membuat siapapun kebingungan.

Kami melangkah dan menyusuri gua. Cahaya-cahaya dari lampu blitz handphone menerangi perjalanan. Lucunya salah seorang teman saya memiliki handphone namun belum mengunduh aplikasi senter, jadi dia hanya menggunakan layarnya dan menampilkan tampilan berwarna putih agar cukup terang.

Kami harus saling membantu untuk menyusuri gua Lalay. Beberapa kali saya hampir terjatuh, untung saja ada yang memegang saya.

Di ujung perjalanan kami diberikan pilihan apakah ingin keluar gua dari sisi yang lain namun harus mendaki atau ingin kembali saja. Kami jatuh ke pilihan kembali karena nampaknya medannya cukup terjal untuk mendaki gua tersebut.

Pantai

Setelah puas dengan gua Lalay kami kembali ke penginapan, sholat Ashar, dan bergegas ke pantai. Untuk menuju pantai kami harus menyeberangi jembatan gantung, kemudian kami harus membayar retribusi lagi sebesar Rp 5.000 per orang. Biaya ini hanya dikenakan sekali. Jadi jika kami pergi lagi ke pantai keesokan harinya kami tidak perlu membayar kembali.

Tiket retribusi ke pantai di Sawarna

Pantai yang ada di daerah Sawarna memiliki pasir putih dan bersih. Saya menilai pantai ini juga lebih bersih dibandingkan pantai yang terakhir kali saya kunjungi, Santolo. Ombaknya sendiri cukup besar karena ini adalah garis pantai yang menghadap samudera. Sementara rekan-rekan saya bermain dan menyatu dengan gulungan ombak, saya bermain pasir. Pasir disini sangat menyenangkan untuk dimainkan. Teksturnya lembut dan menyatu dengan mudah dengan air. Sayang hanya sebentar kami disini sehingga saya kurang banyak bereksperimen untuk membentuk beragam patung.

Patung pertama. Kepala dan tangan. Agak menyeramkan ya?

Yang ini kaki, dikerjakan pas hari Sabtu. Sebenarnya bingung mau bikin apa, jadi saya putuskan saja membuat kaki.
Selain pasirnya, pemandangannya pun indah. Dilingkupi bukit, sawah, dan pantai, semuanya menyatu dengan indah.

Sunset di sini indah, sayang waktu itu ada awan

Sisi lain pemandangan matahari terbenam

Pohon yang tumbang, memberikan kesan eksotis

Ini bagian lain dari pantai, namanya ujung Layar. Mirip tanah lot ya?



Pulang

Hari Sabtunya kami sarapan dulu kemudian menyempatkan sekali lagi ke pantai dan kemudian langsung pulang jam 1 siangnya. Setelah singgah sebentar di Sukabumi untuk makan (rumah makan Panorama, ayam goreng dan nasi, Rp 35.000), kami kemudian singgah ke produsen Moci Kaswari Lampion. Letaknya di Jl. Bhayangkara G. Kaswari.

Moci Lampion adalah sebuah merek moci terkenal dari Sukabumi. Bagi anda yang selama ini hanya pernah makan moci berisi kacang tanah, anda akan terkejut dengan rasa di produsen moci yang satu ini. Di sana disediakan beragam rasa isian moci mulai dari strawberry, coklat, blueberry, keju, hingga yang paling saya suka, durian. Harga setiap kotaknya adalah Rp 30.000 dengan isi 15 moci. Memang mahal, tapi sebanding dengan rasanya yang amat sangat enak.

Setelah sholat maghrib di musholla Moci Lampion, kami pun pulang ke Bandung.

Kotak Moci Kaswari Lampion rasa durian.


Rekap Biaya


Jadi, berapa biaya perjalanan yang dikeluarkan? Saya hanya akan melakukan rekap biaya dari pribadi ya.

Patungan (sudah termasuk tiket masuk wisata), Rp 200.000
Ember (untuk main pasir), Rp 15.300
Sekop (untuk main pasir), Rp 15.000
Kuas (untuk main pasir), Rp 2.900
Semprotan air (untuk main pasir), Rp 13.500
Chitato ayam bumbu (bekal perjalanan), Rp 18.800
Aqua 1500 ml (bekal perjalanan), Rp 3.900
Antangin Permen Herbal Fresh (bekal perjalanan), Rp 1.000
Pop Mie (jajan), Rp 5.000
Nissin Wafer (jajan), Rp 13.000
Susu kotak ultramilk (jajan), Rp 7.000
Nasi + sayur labu+ telur dadar (makan siang), Rp 9.000
Nasi goreng (makan malam, subsidi Rp 5.000 dari uang patungan), Rp 5.000
Nasi + tempe oreg + telur balado (makan pagi), Rp 10.000
Nasi + Ayam goreng (makan sore di perjalanan pulang, subsidi Rp 10.000 dari uang patungan), Rp 25.000
Total: Rp 344.400

Woah! Ternyata banyak juga pengeluaran saya. Memang sih awalnya kesannya murah (hanya Rp 200.000), tapi ternyata banyak bocor di sana-sini.

Have fun bagi yang ingin melakukan perjalanan ke Sawarna! Selalu berhati-hati di jalan, dan ingat, jangan buang sampah sembarangan!


Happy traveling!

p.s: gehol kan bahasa gue yang keformal-formalan? Uwuwuwuwu

Sunday, May 11, 2014

Lecture Note: Apa itu P dan NP problem?



Sewaktu saya pertama kali mengikuti mata kuliah Analisis dan Desain Algoritma saya disuguhkan Big O Notation. Ini adalah notasi untuk menyatakan kompleksitas dari sebuah algoritma dalam memecahkan permasalahan. Ngomongin permasalahan, ada yang manya P dan NP problem. Saya kurang tahu mengenai problem ini, untung saja pak Lala Septem Riza menulis tentang ini di grup jurusan saya. Haha. Berikut tulisan yang beliau buat: 

[LECTURE NOTE] Apa itu P dan NP problem ? apakah P = NP atau P != NP ? pasti pernah mendengar itu kan ? Saya hanya menulis sedikit dari topik itu, tambahan/koreksi lebih diharapkan . Suatu algoritma bisa dimasukkan dalam P problem jika alg itu bisa menyelesaikan (SOLVE) problem secara efisien/polinomial. Sedangkan NP adalah algorithm yang hanya bisa melakukan verifikasi (VERIFY) permasalahan itu secara efisien. Saat ini masalah apakah P = NP atau P != NP masih jadi misteri yang tak terpecahkan di computer science. Jadi jika anda bisa memecahkannya dengan memberikan pembuktian secara matematika maka rekening bank anda pasti dipenuhi dengan jutaan dollar . Apa contoh P dan NP ? Misalkan gini, kalau anda diberi problem perkalian: 131 * 71 = ?, maka komputer anda/anda sendiri dengan kurang dari 1 detik, bisa menjawab 9301, bukan ? Karena complexity dari perkalian hanya O(n^2) (maksimal, krn bisa dibuat kurang dari itu). Itu artinya perkalian adalah P (polynomial) problem. Tapi sekarang kalau diberi soal seperti ini: x * y = 9301, maka algo yang anda buat butuh waktu komputasi yg panjang. Tentu saja untuk kasus ini, anda tahu jawabannya xixixi. Ini hanya kasus sederhana, karena bisa jadi jumlah digitnya bisa puluhan/ratusan dan butuh puluhan/ratusan tahun untuk tahu jawabannya. Inilah yg disebut permasalahan faktorisasi, dan ini digolongkan sebagai NP (nondeterministic polynomial) problem. Tapi sekalinya anda bisa menemukan solusi x dan y, anda gampang untuk memverifikasinya bukan .Permasalahan yang timbul adalah apakah P = NP atau P != NP ? jika anda bisa membuktikan bahwa P = NP itu artinya, apapun masalah yang sulit (tak bs dipecahkan scr efisien) bisa dibuatkan algorithm yang efisien (P). Kalau ini terjadi, maka seluruh bank di dunia ini akan TUTUP karena pembuktian anda . Anda akan dapat turing award (nobelnya di computer). Kenapa begitu ? karena semua bank mengandalkan enkripsi berdasarkan faktorisasi (rsa). Akan tetapi sebaliknya, walaupun secara intuitif P != NP, nyatanya untuk membuktikannya pun juga tidak gampang, bahkan sampai skrgpun belum ada yang bisa. Jadi mangga bagi yang tertarik dapat jutaan dollar .

Demikian tulisan beliau. Btw, di tulisan beliau tersebut ada x*y = 9301. Nah loh, jawabannya apa? Problem ini bisa dipecahkan dengan Linear Diophantine. Tentang Linear Diophantine bisa baca di blognya alijaya di http://alijayameilio.blogspot.com/2012/08/linear-diophantine.html, tutorial yang dia buat enak banget! :D 

UPDATE, linear diophantine kata ali nggak bisa buat perkalian, hehe (baca comment), tapi teteup, postingan dia enak buat dibaca :p

Lecture Note: No Free Lunch

Setelah lama berkecimpung di dunia digital, saya sering mendapati tulisan "Free as speech, not free as beer." Ya kurang lebih maksudnya tentang kebebasan berpendapat. Masih ada hubungannya dengan kata "Free", tulisan lecture note yang dibuat oleh Pak Lala Septem Riza kali ini membahas tentang "No Free Lunch".
Berikut tulisan lecture note yang ditulis di grup jurusan Ilmu Komputer UPI:

[LECTURE NOTE] "No free lunch" theorem. Atau berarti "tak ada makan siang yang gratis". Dulu di Amerika, pernah punya kebiasaan memberikan makanan (camilan) gratis jika kita pesan bir di siang hari. Tapi kemudian, kebiasaan ini dihapuskan karena alasan ekonomi, dll. Sehingga, dikatakan tak ada lagi makan siang yang gratis. Walaupun, sampai saat ini di Spanyol masih punya budaya makan siang (camilan) gratis, kalau kita pesan minum bir (atau teh kalau buat saya :D), yang biasa dinamakan "Tapas". Jadi kita bayarnya seharga teh, tapi kita disuguhi camilan, seperti ikan goreng, udang goreng, burger, dll. Trus, "No free lunch" juga bisa berarti bahwa tak ada traktir - traktiran di budaya barat (Eropa dan Amerika). Jadi, jangan berharap bakal ditraktir jika diajakin makan siang bareng. Bahkan untuk pesta syukuran teman yg baru aja defense S3 sekalipun, kita harus bayar sendiri - sendiri. Jadi curcol nihh ceritanya hehehe, tapi inilah salah satu indahnya Indonesia, yang orangnya suka saling traktir .Tapi apa hubungannya budaya "no free lunch" dengan computer science ? . Teorema "no free lunch" menyatakan bahwa "tak ada satupun algoritma yang bisa mendapatkan akurasi terbaik untuk segala masalah". Jadi, jika ada algoritma A yang hebat di masalah x, maka algorithma A itu bisa jadi memberi akurasi yang jelek untuk masalah y. Itulah yang disebut tak ada makanan siang gratis, karena algorithma itu pasti membayar (jelek akurasinya) untuk masalah yang lain. Bahkan, bisa dikatakan bahwa algoritma yang baru dikembangkan dan dirasa canggih itu sebenarnya tak lebih baik dari algoritma acak/random atau brute force yang sederhana sekalipun untuk segala masalah. Teorema ini berlaku untuk algoritma di bidang supervised machine learning (classification) dan pelacakan&optimasi.
Apa efek teorema ini bagi kita ? Kita terkadang (entah di tugas akhir, dll) ingin membandingkan suatu algoritma dengan algoritma lain pada suatu kasus tertentu. Maka dengan memahami teorema ini, kita jadi lebih hati - hati dalam memutuskan hipotesa kita. Misalkan, tak lagi berkata: algoritma kita lebih baik dari algoritma lain. Karena kalaupun algoritma kita lebih bagus, maka sebenarnya algoritma kita bagus untuk kasus itu saja, untuk kasus lain algoritma kita bisa jadi lebih jelek. Disamping itu, untuk membandingkan algoritma kita dengan yang lain diperlukan mekanisme penarikan kesimpulan tertentu (secara statistik), tak bisa hanya membandingkan dengan satu kasus saja. Akhir kata, kalaupun kita tak pernah membandingkan algoritma - algoritma di tugas akhir, minimal kita jadi tahu kalau diajakin makan siang ama orang bule, maka kita harus siapin duit sendiri :D(kecuali dibilangin bakal dibayar-RED).

Lecture Note: Induktif

Cara berpikir Induktif adalah berpikir mendapatkan kesimpulan dari serangkaian kejadian yang sudah ada. Kadang saya suka kebalik-balik antara induktif dan deduktif. Jadi supaya ingat induktif itu berpikir secara "in" (dari khusus ke general), dan deduktif berpikir secara "de" (dari general ke khusus). Haha.

Tulisan Lecture Note kali ini dibuat oleh Pak Lala Septem Riza. Tulisan ini sebenarnya adalah tulisan sebelum lecture note mengenai cara berpikir induktif. Berikut tulisan yang beliau buat di grup jurusan saya:

[LECTURE NOTE] Bagi yang sudah membaca LECTURE NOTE beberapa hari yang lalu, mungkin masih ingat tentang pertanyaan saya: "apakah anda seorang scientist atau engineer ?". Bagi yang belum bisa menjawab, ndak papa, karena sekarang kita akan bahas salah satu karakter dari scientists. Salah satu karakteristik dari scientists adalah mereka sangat getol ("keen on") pada metode inductivism (induktif). Apa itu induktif/generalisasi ? Arti gampangannya adalah generalisasi. Misalkan gini, anda dapat mangga dari pohon tetangga. Anda kupas dan makan, dan ternyata rasanya manis. Trus, tetangga yang kasih mangga itu bilang: "Buah mangga dari pohon ini memang selalu manis rasanya". Itulah generalisasi, karena anda dan tetangga tidak makan semua mangga di pohon itu, bukan ? Dan sepertinya tidak perlu, karena kalau anda lakukan, itu namanya panen dan perut anda bisa kembung karena mangga . Anda bisa menyimpulkan sesuatu secara generalisasi dengan hanya mengambil sample sebagian dari mangga itu. Contoh lain, bagi yang belum pernah lihat dan pergi ke Australia, pasti punya kesimpulan bahwa "angsa selalu berwarna putih". Karena setiap kali kita ketemu angsa, selalu berwarna putih. Padahal sebenarnya ada angsa berwarna hitam di Australia.
Ada langkah2x dan syarat2x dalam melakukan induktif, agar diperoleh kesimpulan yang kuat. Pada dasarnya ada 2 langkah, yaitu:
1. Lihat/observasi SATU data/fakta. Misalkan, angsanya pak Ali berwarna putih. Cuman ada 1 angsa yg kita lihat, yaitu miliknya pak Ali saja. Sehingga kita punya hipotesa, misal: "angsa selalu berwarna putih".
2. Kemudian, lakukan GENERALISASI. Syarat melakukan generalisasi adalah:
a. pengambilan sample untuk observasi harus banyak. Misal, kita kumpulkan banyak angsa yg lain.
b. sample harus mencerminkan berbagai kondisi. Misal, kita ambil angsa dari indonesia, Belanda, Australia, dll.
c. tidak boleh satupun dari observasi tersebut memiliki kesimpulan yang berbeda. Dan ternyata hipotesa kita salah yg menyatakan bahwa "angsa selalu berwarna putih", karena setelah observasi tyt angsa Australia berwarna hitam!.
Itulah proses dari induksi yang harus kita ikuti agar diperoleh kesimpulan dgn tingkat ke-valid-an yg kuat. Saya katakan kuat, karena kita sesungguhnya TIDAK dapat mengimpulkan KEBENARAN ABSOLUT dgn metode Induktif ini, yang ada hanya kuat, lemah, dan tak valid. Contoh yg menunjukkan kita tak bisa menyimpulkan secara absolut adalah hari ini ada matahari, kemarin juga ada, 100 th yg lalu juga ada, bisakah kita simpulkan secara absolut kalau besok masih ada matahari ??, tentu tidak bukan , "but we strongly believe that tomorrow we can still see the sun". Hopefully... xixixi.
Banyak contoh dari proses induksi di bidang science, misalkan teorema (e.g., teorema no free lunch, pada LECTURE NOTE yang lalu), hukum (e.g., hukum Newton), model, dll. Dan hampir setiap saat di kehidupan, kita berkubang dengan induktif/generalisasi. Misal, kita baca berita banyak anggota partai A yang korupsi, trus kita katakan: "Partai A adalah partai korup". Kita juga sering bilang "Eeh si A orangnya bager pisan euy", padahal kita tak amati tiap detiknya. "Dosen itu tuh selalu marah di kelas", "Wah pagi-pagi kok udah mendung, pasti bentar lagi mau hujan", dan lain sebagainya . Yang terpenting disini adalah jika kita melakukan generalisasi maka kita perlu sadar bahwa pernyataan/kesimpulan kita bukanlah kebenaran yang absolut.
Apakah Induktif adalah metode terbaik di science ? ternyata metode ini ada kelemahannya, salah satunya adalah data yang kita punya, harus bisa kita observasi/lihat/rasakan/hitung. Bagaimana dengan surga ? tak ada satupun orang di dunia ini yang pernah lihat surga, apakah trus kita katakan surga tidak ada ?? tentu tidak . Maka dari itu, kita butuh metode yang lain, semisal Deduktif, Paradigm, dan tentu saja kita perlu menambah iman . Adakah yang tahu apa kelemahan lain dari metode Induktif ini ?
Semoga artikel ini bisa sedikit memberi "rasa scientists" di diri kita dalam kehidupan sehari-hari.

Lecture Note: Apakah anda Scientist Atau Engineer?

Pak Lala Septem Riza kali ini membahas apakah anda adalah seorang scientist atau engineer. Hmm.. topik ini bagus sekali untuk ditanyakan di grup jurusan saya. Kenapa? Karena jurusan saya adalah Ilmu Komputer yang seharusnya berbasis keilmuan dan menelurkan scientist, tapi pada kenyataannya pekerjaan yang diambil kebanyakan adalah pekerja industri (e.g: programmer, admin, dsb). 

Lecture note yang beliau buat membuat saya berkontemplasi banyak. Hehe. Berikut note beliau:

[LECTURE NOTE] Siapakah Anda sebetulnya ??? Kalau kita ditanya begitu, apa jawab kita ? Apakah kita seorang ilmuwan (scientist) atau kah kita seorang insinyur (Engineer)? Kalau diliat dari kita yang sekolah di Ilmu Komputer atau Computer Science, mungkin saja kita seorang scientist/ilmuwan karena ada kata science -nya . Tapi memangnya apa itu computer science ? Apa bedanya dengan teknik komputer/computer engineering ? Benar- benar yakinkah kita kalau kita adalah seorang ilmuwan ? Apa buktinya kalau kita seorang ilmuwan bukan insinyur ?Coba kalau kita tanya ke pengemudi kereta api, Beliau dengan yakinnya akan menjawab: "Saya adalah seorang masinis". Begitu juga ada yang bilang: "saya adalah seorang pilot"; "saya adalah seorang tukang kayu", "saya adalah insinyur sipil", dst. Sekarang kita tanya pada diri sendiri: "siapakah anda ?" seorang ilmuwan kah atau seorang insinyur ? "Ahhh kok cari pusing sihh, emang gue pikirin, yang penting lulus lah". Kalau itu jawaban kita, maka kita tak ingin tahu siapa diri kita. Masak kita kalah dengan masinis, pilot, dan tukang kayu yang bisa menjawab dengan lantangnya.... hayoo, jawab pertanyaan ini "siapakah diri kita" ?  Dan sejatinya apa itu science, engineering, computer science, computer engineering, apa syarat untuk menjadi ilmuwan/scientist (orang yang belajar/bekerja di science), dan apa kriteria dikatakan sebagai insinyur/engineer (orang yang belajar/bekerja di engineering).
Mangga bagi yang ingin berpendapat....